DOA PENUTUP AIB DAN PENGAMPUN DOSA
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَرَادَ أَنْ لَا يُوْقِفَهُ اللَّهُ عَلَى قَبِيْحِ أَعْمَالِهِ، فَلْيَدْعُ بِهَذَا الدُّعَاءِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ: اَللّٰهُمَّ إِنَّ مَغْفِرَتَكَ أَرْجَى مِنْ عَمَلِيْ، وَإِنَّ رَحْمَتَكَ أَوْسَعُ مِنْ ذَنْبِيْ، اَللّٰهُمَّ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَهْلًا أَنْ أَبْلُغَ رَحْمَتَكَ، فَرَحْمَتُكَ أَهْلٌ أَنْ تَبْلُغَنِيْ، لِأَنَّهَا وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Barang siapa yang ingin agar Allah tidak memperlihatkan (membongkar) keburukan amal-amalnya (di hari kiamat), maka hendaknya ia berdoa dengan doa ini di setiap akhir shalat: Ya Allah, sungguh ampunan-Mu jauh lebih aku harapkan daripada amalku, dan sungguh rahmat-Mu jauh lebih luas daripada dosaku. Ya Allah, jika aku tidak layak untuk mencapai rahmat-Mu, maka rahmat-Mulah yang layak untuk sampai kepadaku, karena rahmat-Mu meliputi segala sesuatu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih."
Teks do’a tersebut dikutip oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Kitab Al-Munabbihat, kemudian dijelaskan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani Dalam kitab Nashaihul 'Ibad (Bab IV, Maqalah ke-31),, sebagi berikut:
1.Perlindungan dari Al-Fadhihah (Keburukan yang Terbongkar): Doa ini merupakan kunci agar seorang hamba mendapatkan fasilitas Sitrullah (perlindungan aib) di hari kiamat. Allah tidak akan membocorkan lembaran catatan amal buruknya (diwan) di hadapan khalayak.
2.Menyandarkan Harapan pada Ampunan, Bukan Amal: Syekh Nawawi menekankan bahwa seorang hamba tidak boleh sombong atau bersandar pada amal ibadahnya sendiri. Amal manusia penuh dengan cacat, lupa, dan kurang khusyuk. Satu-satunya tumpuan keselamatan yang sejati adalah ampunan (maghfirah) dan rahmat Allah.
3.Pasrah dan Tawadhu' (Ubūdiyyah): Kalimat "jika aku tidak layak mencapai rahmat-Mu, maka rahmat-Mu yang layak sampai kepadaku" adalah bentuk puncaknya pengakuan hina seorang hamba. Kita mengaku tidak punya pantasan menerima kebaikan, namun kita memanggil sifat Rahmat Allah yang Mahaluas untuk merengkuh diri kita yang penuh dosa.
Semoga bermanfaat
عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَرَادَ أَنْ لَا يُوْقِفَهُ اللَّهُ عَلَى قَبِيْحِ أَعْمَالِهِ، فَلْيَدْعُ بِهَذَا الدُّعَاءِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ: اَللّٰهُمَّ إِنَّ مَغْفِرَتَكَ أَرْجَى مِنْ عَمَلِيْ، وَإِنَّ رَحْمَتَكَ أَوْسَعُ مِنْ ذَنْبِيْ، اَللّٰهُمَّ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَهْلًا أَنْ أَبْلُغَ رَحْمَتَكَ، فَرَحْمَتُكَ أَهْلٌ أَنْ تَبْلُغَنِيْ، لِأَنَّهَا وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Barang siapa yang ingin agar Allah tidak memperlihatkan (membongkar) keburukan amal-amalnya (di hari kiamat), maka hendaknya ia berdoa dengan doa ini di setiap akhir shalat: Ya Allah, sungguh ampunan-Mu jauh lebih aku harapkan daripada amalku, dan sungguh rahmat-Mu jauh lebih luas daripada dosaku. Ya Allah, jika aku tidak layak untuk mencapai rahmat-Mu, maka rahmat-Mulah yang layak untuk sampai kepadaku, karena rahmat-Mu meliputi segala sesuatu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih."
Teks do’a tersebut dikutip oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Kitab Al-Munabbihat, kemudian dijelaskan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani Dalam kitab Nashaihul 'Ibad (Bab IV, Maqalah ke-31),, sebagi berikut:
1.Perlindungan dari Al-Fadhihah (Keburukan yang Terbongkar): Doa ini merupakan kunci agar seorang hamba mendapatkan fasilitas Sitrullah (perlindungan aib) di hari kiamat. Allah tidak akan membocorkan lembaran catatan amal buruknya (diwan) di hadapan khalayak.
2.Menyandarkan Harapan pada Ampunan, Bukan Amal: Syekh Nawawi menekankan bahwa seorang hamba tidak boleh sombong atau bersandar pada amal ibadahnya sendiri. Amal manusia penuh dengan cacat, lupa, dan kurang khusyuk. Satu-satunya tumpuan keselamatan yang sejati adalah ampunan (maghfirah) dan rahmat Allah.
3.Pasrah dan Tawadhu' (Ubūdiyyah): Kalimat "jika aku tidak layak mencapai rahmat-Mu, maka rahmat-Mu yang layak sampai kepadaku" adalah bentuk puncaknya pengakuan hina seorang hamba. Kita mengaku tidak punya pantasan menerima kebaikan, namun kita memanggil sifat Rahmat Allah yang Mahaluas untuk merengkuh diri kita yang penuh dosa.
Semoga bermanfaat
Tiada ulasan:
Catat Ulasan
Insya ALLAH, komentar ada dihargai demi menyuburkan budaya ilmu.